Menjelang akhir jualan, seorang bapak pengen beli 40rb setelah sebelumnya, si istrinya, beli 10rb pagi-pagi tadi. Tapi sayang sisa pisang molen tinggal 18 biji. Saya kasih aja 15rb semuanya.
Pagi, mbak Ismi datang ke outlet tapi semuanya belum ready. Beliau pun tancap gas, nggak jadi beli. Sementar itu si Abu Tholib Amal kembali menagih coklat yang kemaren dia lupa ambil. Alhamdulillāh.
Lalu tiba-tiba ex-karyawan AHASSSS... di depan outlet datang dan beli. Saya tanya, ternyata dia sudah "dipindahtugaskan" di rumah alias buka sendiri.
Seperti berjumpa dengan kawan lama, hanya saja beda di "itu".
Libur sepekan, pulang kampung karena Akh Abu Adnan izin keluar dadakan karena ayahnya meninggal dan ibunya sendirian di kampungnya, jadi dia harus nemenin, sebagai anak shaleh, in syāa Allāh.
Gantinya, alhamdulillāh, Akh Abu Bilal dari Pekalongan. In syāa Allāh beliau amanah.
Sore menjelang Ashar, menatap ke langit, mendung. Meski begitu outlet 141 tetap saya buka. Berangkat dengan bismillah. Dan menjelang Maghrib, menjelang berbuka, rintik-rintik mulai turun. Alhamdulillāh.
Akhir cerita, ada 3 calon pembeli datang tapi sudah kehabisan.
Baru kali ini, ada pembeli 5 rb, uangnya 100-an. Saya bilang nggak ada kembalian, nihil. Saya bilang bayarnya kapan-kapan aja, dia nggak mau. Akhirnya dia pergi, nggak jadi beli. 😅
Alhamdulillāh jualan hari ini habis sebelum Maghrib, masih setengah 6 sore. Saya pulang, sementara gerobak ditinggalkan saja di depan masjid. Bagiti adzan Maghrib dan saya meminum teh hangat, tiba-tiba turun hujan lebat. Saya ke masjid dengan payung yang kemudian rusak karena anginnya kenceng banget. Saya pinjam ke petugas parkir masjid sebuah payung buat ngambil jas hujan di gerobak. Alhamdulillāh sampe rumah, ganti celana yang basah, dan ngopi.
Hari ini outlet tutup lebih cepat karena ada urusan lain yang harus dikerjakan. Dan sebagaimana kebiasaan dan tabiat kaum fasiq, mereka bertanya-tanya, ada apa gerangan? Na'am, tak pernah kepo urusan Tawhid dan Aqidah, dan sebaliknya sangat penasaran dan memperdalam urusan yang —subhānallāh– sama sekali tak penting. Mengerikan memang kelakuan mereka ini, andai mereka tahu.
Hujan turun, muthirnā bi-fadhlillāh, di tengah-tengah acara. Acara apa? Yang jelas bukan acara yang berisik itu. Semoga Allah ﷻ memberkahi kita.
Selain turunnya hujan yang membuat saya senang, Hasna juga datang dan bermain agak lama di pangkuan saya. Alhamdulillāh. Walaupun bolak-balik minta jajan 😅.
Seperti biasa, di hari Ahad, Hasna ke outlet dalam rangka "menjemput" saya agar pulang. Tapi bisa saya bujuk dengan jajanan, sebelum jualan saya habis dan akhirnya pulang.
Kaum fasiq, sudah barang tentu menjengkelkan dan menjijikkan. Seorang lelaki fasiq –sebagaimana kami menilainya– datang membeli dengan uang 100rb-an, mengatakan tidak ada uang pas. Sewaktu saya mau kasih kembalian dengan uang dua ribuan, dia langsung mengeluarkan uang 10rb (pas) dari kantongnya. Tanpa malu. Lalu langsung pergi. Betina yang memboncengnya cengar-cengir. Untung rizki saya datang dari Allah ﷻ, jadi saya berdoa agar orang seperti itu tidak datang lagi ke outlet saya.